mengunjungi monkey forest ubud, destinasi wisata alam bali
Traveling

Serunya Jelajah Monkey Forest Ubud dan Melihat Tingkah Monyet

Hai, Sobat Keluyuran. Siapa nih yang pengen selfie sama monyet di Monkey Forest Ubud, Bali? Seru kan ya? Bisa jadi pengalaman tak terlupakan yang menggelikan dan cukup menantang.

Sebenarnya, ke Monkey Forest Ubud itu bukan wishlist prioritasku. Agak geli aja ketemu banyak monyet gitu, keingat dulu di Goa Kreo Semarang aku mlipir-mlipir takut sama kawanan monyet yang berkeliaran dan cukup beringas kubilang.

Dengan Teman Bus ke Monkey Forest Ubud

Well, ke Monkey Forest Ubud ini juga bukan perjalanan yang terencana. Spontan saja akibat ingin mencoba rute terjauh Teman Bus Bali, koridor 4 dengan rute Ubung – Monkey Forest.
Halte terdekat dengan kami ada di sekitar Taman Lumintang, kami pun menuju ke sana dengan sepeda motor. Tak lama menunggu, bus datang dengan seorang penumpang yang turun di halte setelah Lumintang.

Perjalanan 1 jam 15 menit dari Denpasar sampai Monkey Forest Ubud, nggak kerasa deh. Apalagi seperti nyarter bus karena nggak ada penumpang lain sejak kami naik sampai turun di halte terakhir.

Kawanan Monyet di Monkey Forest Ubud

Tiba di lokasi sekitar pukul 1 siang, saya langsung menanyakan tempat shalat. Sama petugasnya diizinkan menggunakan ruang menyusui (nursery room) dan bisa mengambil aur wudlu di toilet.
Jadi Sobat Keluyuran yang muslim, bisa tanya langsung ke petugas di loket tiket ya, kalau mau melaksanakan ibadah shalat di lokasi.

Kami masih dapat tiket harga pandemi, dewasa @65ribu dan anak-anak @30ribu. Lumayanlah ya, dibanding harga tiket aslinya. Anak mulai usia 2 tahun sudah harus membayar tiket sendiri. Oh ya, ada juga sebagian orang yang liburan keluarga membawa bayi dan balita, mereka berkeliling menggunakan stroller.

Sebenarnya begitu masuk area ini, sudah terlihat banyak monyet berkeliaran. Plang berisi peringatan untuk berhati-hati karena banyak monyet pun terpasang di beberapa tempat.
Masuk area, ada pengecekan tiket, petugas jaga pun mengingatkan aturan masuk ke dalam hutan, di antaranya, tidak diperbolehkan menenteng tas, sebaiknya gunakan tas punggung/selempang yang tidak menarik perhatian, tidak ada gantungan tas yang mencolok dan menarik perhatian monyet, dilarang memberi makan dan minum, dll.

Jujur, baru masuk rasanya sudah degdegan, takut dengan monyet-monyet itu. Sebelum masuk sudah melihat beberapa yang duduk di pinggir jalan tapi kami sok cuek. Begitu masuk dan mulai mendengar suara kawanan monyet, nyali pun mulai menciut.

“Santai saja.. mereka suka narik-narik celana atau rok. Lanjut jalan aja nggak perlu dihiraukan,” kata seorang ibu paruh baya yang berpapasan dengan kami. Mungkin beliau melihat wajah anak-anak yang pias bertemu monyet, pun aku yang mulai waswas.

 

Beware, Monkeys Are Everywhere

Asli, sempat worry banget kalau monyetnya ganas, ternyata cukup ramah asal nggak menarik perhatian atau ganggu mereka. Anak-anak pun sudah mulai terbiasa, nggak takut-takut lagi.
Eh, malah ada yang tiba-tiba “menclok” ke punggung suami, berusaha buka ransel. Nggak bisa buka dia turun lagi.

“Ranselnya bawa di depan saja,” saran bapak-bapak di belakang kami.

Sayang banget nggak sempat mengabadikan waktu si monyet nemplok. Keknya bapak-bapak yang dibelakang kami itu ngerekam sih, tapi nggak kepikiran minta foto/videonya, anak-anak udah capek jalan, minta cepat-cepat pulang. Padahal sempat ketemu mereka lagi di tempat lain.

Ada aja loh, tingkah lucu para monyet ini. Ada yang sekeluarga peluk-pelukan macam teletubbies, ada yang berdua seperti sedang sesi curhat, ada yang ngumpul ngambilin kutu, dan ini yang epic banget. Emak monyet gendong anaknya, duduk di bawah pohon yang kena cahaya matahari. Matanya “kriyep-kriyep” ngantuk.

Sambil moto sambil cekikikan. “Berasa melihat diriku sendiri pas gendong bayi, nyusuin, sambil ngantuk-ngantuk,”

“Iya tuh, persis. Emak-emak habis lembur nyusuin anaknya, trus pagi-pagi kriyep-kriyep,” si Ayah menimpali.

Ternyata capek juga kalau muterin Monkey Forest ini. Iyalah, tempatnya cukup luas. Ada beberapa tempat yang terkesan “singup” bikin bulu kuduk merinding. Sebagian juga jalannya licin karena tidak terkena sinar matahari, terhalang pepohonan tinggi.

Tentang Monkey Forest

Mandala Suci Wenara Wana atau disebut juga Monkey Forest Ubud merupakan sebuah tempat cagar alam dan kompleks candi yang terletak di desa Padangtegal Ubud, Bali.

Di tempat ini mempunyai kurang lebih 749 ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) (63 jantan dewasa, 34 jantan muda, 219 betina dewasa, 29 betina muda, 167 juvenile 1 (2-3 tahun), 118 juvenile 2 (1-2 tahun), 63 Infant old (5-12 bulan) dan 56 infant.
Ada enam kelompok monyet yang menempati wilayah berbeda di hutan ini yaitu grup Pura, grup Hutan Baru, grup Sentral Point, grup timur, grup Michelin dan grup Kuburan.

Tempat ini merupakan atraksi wisata populer di Ubud, dan sering dikunjungi oleh lebih dari 120.000 wisatawan per bulan. Sayang selama pendemi, pengunjung jauh berkurang. Keuntungannya, kalau kita ke sana bisa lebih leluasa karena tidak ramai.

Hutan ini memiliki luas kira-kira 12,5 hektar dan masih akan dilakukan perluasan disebelah selatan kawasan dan berisi setidaknya 186 spesies pohon yang berbeda.
Seru juga loh, mengenalkan berbagai jenis pohon ke anak-anak, meskipun belum tentu mereka mengingatnya.
Kadang ketika ada pohon unik yang belum pernah kami lihat, kami tanya ke tour guide/pawang yang berada di lokasi.

Monkey Forest Ubud ini pun juga terdapat tiga pura yang bernama Pura Dalem Agung Padangtegal, Pura Beji dan Pura Prajapati. Tempat ini berlokasi di desa Padangtegal dan diatur oleh warga desa yang langsung bekerja di Monkey Forest Ubud.

Management Mandala Suci Wenara Wena yang mengelola tempat ini berfungsi untuk menjaga integritas kesucian dan untuk mempromosikan Monkey Forest Ubud sebagai tujuan berkunjung baik untuk wisatawan domestik dan mancanegara. (Sumber: Wikipedia)

Sekarang di sana masih sepi. Galeri di dalam tutup, toko-toko di sekitarnya pun sama. Jadi kami nyari makan sampai agak jauh dari lokasi. Kurang lebih 10 menit muter-muter sekitar Ubud, akhirnya nemu resto ayam franchise yang kemudian menjadi tujuan kami untuk santap siang yang terlambat.

Cukup seru juga berkeliling menjelajah Mandala Suci Wenara Wena ini. Dapat udara segar, pemandangan hijau yang menyejukkan mata, monyet-monyet yang kadang memacu adrenalin, makin sehat karena jalan keliling disertai naik/turun tangga.

Ah ya, ada kisah lucu ketika akan pulang. Suami memarkir motor di area parkir, ada botol minuman si Kecil yang diletakkan di bawah stang. Ternyata waktu kami lihat tidak ada di sana. Kami pun iseng bertanya ke petugas parkir. Ternyata botol minuman itu menarik perhatian seekor monyet, dan diambilnya, dibawa ke sana ke mari dan terlihat oleh penjaga tiket. Botol beliau minta dan disimpankan di pos jaga. Makasih, Mbok yang baik hati.. geli banget pas tahu ternyata botol minumnya dicuri monyet.

Ada yang punya kisah seru di Monkey Forest juga? Yuk, bagikan kisah seru kamu di kolom komentar.

Selamat ngeluyur!

Monkey Forest Ubud
Jl. Monkey Forest, Ubud, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571

monyet yang berkeliaran di monkey forest ubud

Arina Mabruroh, emak blogger yang suka traveling dan wisata kuliner. Paling suka wisata murah meriah bareng keluarga. Prinsipnya, piknik nggak perlu fancy, yang penting happy. Suka eksplor resep meski lebih sering gagal. Saat ini domisili di Kota Denpasar Bali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.